Kegiatan Remedial
TUGAS
STRATEGI
PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR
Tentang
“Kegiatan
Remedial”
Disusun
Oleh:
Heldiza
Silviandari
(1820101)
PGSD
4.4
DOSEN
PENGAMPU
Yessi
Rifmasari, M.Pd.
PENDIDIDKAN
GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA
PADANG
2020
1. Pengertian
pembelajaran Remedial
Kata
remedial berasal dari bahasa Inggris yang artinya menyembuhkan, membetulkan.
Ini berarti bahwa pembelajaran remedial adalah pembelajaran yang bersifat
menyembuhkan sehingga menjadi baik atau sembuh dari masalah pembelajaran yang
dirasa sulit. Menurut Natawija dalam bukunya Pengajaran Remedial, mengemukakan
bahwa dilihat dari arti katanya remedial berarti bersifat menyembuhkan/
membetulkan atau membuat menjadi baik.
Syamsudin
dalam Ishak dan Warji menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kegiatan perbaikan
adalah segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis, sifat
kesulitan belajar, faktor-faktor penyebanya serta cara mendapatkan kemungkinan
mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif
(pencegahan) berdasarkan data informasi yang seobjektif mungkin.
Dengan
demikian pembelajaran remedial adalah sebuah bentuk pembelajaran yang sifatnya
memperbaiki kekeliruan-kekeliruan siswa dalam belajar atau untuk lebih
memberikan pemahaman yang lebih bagi siswa yang mengalami kelambanan dalam
belajar, ini berarti bahwa pengajaran remedial merupakan lanjutan dari
kegiatan-kegiatan diagnostik kesulitan belajar.
2. Tujuan
Pembelajar Remedial
a. Tujuan
pengajaran remedial secara terinci adalah agar murid dapat:
Memahami dirinya, khususnya yang menyangkut prestasi belajar meliputi segi kekuatan, kelemahan, jenis dan sifatnya.
Memahami dirinya, khususnya yang menyangkut prestasi belajar meliputi segi kekuatan, kelemahan, jenis dan sifatnya.
b. Memperbaiki
cara-cara belajar kea rah yang lebih baik sesuai dengan kesulitan yang
dihadapi.
c. Memilih
materi dan fasilitas belajar secara tepat untuk mengatasi kesulitan belajarnya.
d. Mengembangkan
sikap-sikap dan kebiasaan baru yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar
yang lebih baik.
e. Mengatasi
habatan-hambatan belajar yang lebih baik.
f. Melaksanakan
tugas-tugas belajar yang diberikan.
3. Fungsi
Pembelajaran remedial
Adapun beberapa fungsi pengajaran remedial
adalah sebagai berikut:
a. Fungsi
korektif.
Pengajaran remedial
mempunyai fungsi korektif, artinya melalui pengajaran remedial dapat diadakan
pembentukan atau perbaikan terhadap sesuatu yang dianggap masih belum mencapai
apa yang diharapakan dalam keseluruhan proses belajar mengajar. Hal-hal yang
diperbaiki atau dibetulkan melalui pengajaran remedial anatara lain meliputi
perumusan tujuan:
a) Penggunaan
metode mengajar.
b) Cara-cara
belajar.
c) Materi
dana alat pelajaran.
d) Evaluasi.
e) Segi-segi
pribadi murid
b. Fungsi penyesuaian.
Yang dimaksud penyesuaian
adalah agar dapat membantu murid untuk menyesuaikan dirinya terhadap tuntutan
kegiatan belajar. Murid dapat belajar sesuai dengan keadaan dan kemampuan
pribadinya sehingga mempunyai peluang besar untuk memperoleh prestasi belajar
yang lebih baik. Tuntuan belajar yang diberikan murid telah disesuaikan denan
sifat jenis dan latar belakang kesulitannya sehingga murid diharapkan lebih
terdorong untuk belajar.
c. Fungsi pemahaman.
Fungsi pemahaman adalah
agar pengajaran remedial memunkinkan guru, murid dan pihak lain dapat
memeperoleh pemahaman yang lebih memahami dirinya dan segala aspeknya. Begitu
pula guru dan pihak-pihak lainnya dapat lebih memahami akan keadaan pribadi
murid.
d. Fungsi pengayaan.
Fungsi
pengayaan dimaksud agar pengajaran remedial dapat memperkaya proses belajar
mengajar. Bahan pelajaran yang tidak disampaikan dalam pengajaran regular,
dapat iperoleh melalui pengajaran remedial. Pengayaan lain adalah dalam segi
metode dan alat yang dipergunakan dalam pengajara remedial. Dengan demikian,
diharapkan hasil yang diperoleh murid dapat lebih banyak, lebih luas dan lebih
dalam sehingga hasil belajarnya lebih kaya..
e. Fungsi terapeutik.
Dengan
pengajaran remedial secara langsung atau tidak langsung dapat menyembuhkan atau
memperbaiki kondisi kepribadian dapat menunjang pencapaian prestasi belajar,
demikian pula sebaliknya.
f. Fungsi akselerasi.
Fungsi
akselerasi adalah agar pengajaran remedial dapat mempercepat proses belajar
baik dalam arti waktu maupun materi. Misalnya murid yang tergolong lambat dalam
belajar, dapat dibantu lebih cepat proses belajarnya melalui pengajaran
remedial.
4. Prinsip
Pmbelajaran Remedial
Prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran
remedial sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus antara lain:
a.
Adaptif
Pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan peserta
didik untuk belajar sesuai dengan daya tangkap, kesempatan, dan gaya belajar
masing-masing.
b.
Interaktif
Pembelajaran remedial hendaknya melibatkan keaktifan guru
untuk secara intensif berinteraksi dengan peserta didik dan selalu memberikan
monitoring dan pengawasan agar mengetahui kemajuan belajar peserta didik.
c.
Fleksibilitas dalam metode pembelajaran dan penilaian
Pembelajaran remedial perlu menggunakan berbagai metode
pembelajaran dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta
didik.
d.
Pemberian umpan balik sesegera mungkin
Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada
peserta didik mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin
agar dapat menghindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut.
e.
Pelayanan
sepanjang waktu
5.
Metode Dalam Pembelajar Remedial
Metode
yang dapat digunakan , yaitu :
a. Tanya Jawab
Metode ini digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk
mengetahui jenis dan sifat kesulitan siswa. Tanya jawab dapat dilakukan
secara individual maupun secara kelompok.
Dalam rangka perbaikan
serangkaian tanya jawab dapat membantu siswa dalam memahami dirinya, mengetahui
kelebihan/kekurangannya, dan memperbaiki cara belajarnya. Kebaikan metode ini
dalam rangka pengajaran perbaikan yaitu :
a) Memungkinkan terbinanya hubungan baik antara guru dan
siswa.
b) Meningkatkan motivasi belajar siswa.
c) Menumbuhkan rasa percaya diri siswa
b. Diskusi
Metode ini digunakan dengan memanfaatkan interaksi
antar-individu dalam kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami
oleh sekelompok siswa. Kebaikan metode ini dalam rangka pengajaran
perbaikan yaitu :
a) Setiapa
individu dalam kelompok dapat mengenal diri dan kesulitannya dan menemukan
jalan pemecahannya.
b) Interaksi
dalam kelompok menumbuhkan sikap percaya mempercayai.
c) Mengembangkan
kerja sama antar pribadi.
d) Menumbuhkan
kepercayaan diri.
e) Menumbuhkan
rasa bertanggung jawab.
c.
Tugas
Metode ini dapat digunakan dalam rangka mengenal kasus
dan pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dengan
metode ini, siswa diharapkan dapat lebih memahami dirinya, dapat memperdalam
materi yang telah dipelajari, dan dapat memperbaiki cara-cara belajar yang
pernah dialami.
d. Kerja Kelompok
Metode ini hampir bersamaan dengan pemberian tugas dan
diskusi. Yang terpenting adalah interaksi di antara anggota kelompok dengan
harapan terjadi perbaikan pada diri siswa yang mengalami kesulitan belajar
karena :
a) Adanya pengaruh anggota kelompok yang cakap dan
berpengalaman.
b) Kehidupan kelompok dapat meningkatkan minat belajar.
Kehidupan kelompok memupuk tanggung jawab, saling memahami diri.
e.
Tutor
Tutor adalah siswa sebaya yang ditugaskan untuk membantu
temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antara teman umumnya
lebih dekat dibandingkan hubungan guru dengan siswa. Pemilihan tutor ini
berdasarkan prestasi, hubungan sosial yang baik, dan cukup disenangi oleh
teman-temannya. Tutor berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai
pengganti guru.
Kebaikan
metode ini dalam rangka pengajaran perbaikan yaitu :
a) Adanya
hubungan yang lebih dekat dan akrab.
b) Tutor
sendiri kegiatannya merupakan pengayaan dan menambah motivasi belajar.
c) Dapat
meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri.
f.
Pengajaran Individual
Pengajaran individual adalah interaksi antara guru dengan
siswa secara individual dalam proses belajar mengajar. Pendekatan dengan metode
ini bersifat teraputik, artinya mempunyai sifat penyembuhan dengan cara
memperbaiki cara-cara belajar siswa. Hasil yang diharapkan dalam metode ini di
samping adanya perubahan prestasi belajar juga perubahan dalam pemahaman diri
siswa.
6.
Prosedur Dalam Pembelajaran Remedial
Remedial
teaching yang merupakan salah satu bentuk bimbingan belajar dapat dilaksanakan
melalui prosedur sebagai berikut :
1)
Meneliti kasus dengan
permasalahannya sebagai titik tolak kegiatan-kegiatan berikutnya.
Tujuan penelitian kembali kasus ini adalah agar
memperoleh gambaran yang jelas mengenai kasus tersebut, serta cara dan
kemungkinan pemecahannya. Berdasarkan penelitian kasus, akan dapat
ditentukan siswa-siswa yang perlu mendapatkan remedial teaching. Kemudian ditentukan besarnya
kelemahan yang dialami dan dalam bidang studi apa saja mengalami kelemahan.
Selanjutnya meneliti dalam domain apa mengalami kesulitan apakah kognitifnya
ataukah aplikasinya.
Dalam
langkah pertama ini juga dibahas mengenai faktor-faktor penyebab kesulitan
murid, yaitu :
a. Penyebab
yang berasal dari dalam diri :
a) Motivasi
untuk berprestasi.
b) Tingkat
kecerdasannya.
c) Kebiasaan
belajar.
d) Sikap
dalam belajar.
e) Penguasaan
pengetahuan dasar.
b. Penyebab
yang berasal dari luar
a) Keterbatasan
sumber belajar.
b) Kurang
tepat cara mengajar.
c) Fasilitas
yang terbatas.
d) Kurang
serasi hubungan guru dan murid.
e) Tuntutan
dari lembaga (program) yang terlalu tinggi.
2)
Menentukan tindakan yang harus dilakukan.
Dalam
langkah ini, dilakukan usaha-usaha untuk menentukan karakteristik kasus yang
ditangani tersebut. Apakah kasus tersebut termasuk klasifikasi berat, cukup,
atau ringan.
Setelah
karakteristik ditentukan, maka tindakan pemecahannya harus dipikirkan, yaitu
sebagai berikut :
a) Kalau
kasusnya ringan, tindakan yang ditentukan adalah memberikan remedial
teaching kepada siswa tersebut.
b) Kalau
kasusnya tergolong cukup dan berat, maka sebelum diberikan remedial
teaching, harus diberikan
layanan konseling terlebih dahulu untuk mengatasi hambatan-hambatan emosional
yang mempengaruhi cara belajarnya.
Berdasarkan
karakteristik kasus tersebut, maka pada tahap kedua ini adalah membuat
keputusan tentang cara mana yang harus dipilih. Untuk itu, beberapa
pertimbangan yang dapat dipakai dalam mengambil keputusan, yaitu :
a) Faktor efektivitas, yaitu ketepatan tercapainya
tujuan remedial teaching.
b) Faktor efisiensi, yaitu sedikitnya tenaga, biaya, dan
waktu yang dipergunakan, namun hasilnya dapat seoptimal mungkin.
c) Faktor kesusilaan dengan jenis masalah, sifat individu,
fasilitas, dan kesempatan yang tersedia.
3)
Pemberian layanan khusus
yaitu bimbingan dan konseling.
Tujuan dari layanan khusus bimbingan konseling ini adalah
mengusahakan agar siswa yang terbatas dari hambatan mental emosional
(ketegangan batin), sehingga kemudian siap menghadapi kegiatan belajar secara
wajar. Bentuk konseling di sini bisa berupa psikoterapi yang dilakukan oleh
psikolog / psikiater. Tetapi ada kalanya kasus ini dapat dilakukan oleh guru
sendiri bila masalah yang dihadapi adalah sebagai berikut :
a. Kasus
yang mempunyai latar belakang kurang motivasi dan minat belajar.
Dalam hal ini cara yang
ditempuh adalah :
a) Memberikan
dorongan agar lebih berhasil dalam belajar pada waktu berikut-berikutnya.
b) Menciptakan
suasana kompetitif yang sehat.
c) Menghindarkan
anak dari pertanyaan-pertanyaan yang negative yang dapat melemahkan semangat
belajar.
b. Kasus
yang mempunyai latar belakang sikap negatif terhadap guru.
Langkah yang dapat
dilakukan adalah :
a) Menciptakan
hubungan yang hangat antara guru dengan murid dan murid dengan murid.
b) Menciptakan
iklim sosial yang sehat dalam kelas.
c) Memberikan
pengalaman yang menyenangkan.
c. Kasus
yang mempunyai latar belakang kebiasaan belajar yang salah.
Cara yang dapat dilakukan
adalah :
a) Menunjukkan
akibat dari kebiasaan belajar yang salah.
b) Memberikan
kesempatan berlatih dengan pola-pola belajar yang baru.
d. Kasus
yang mempunyai latar belakang ketidakcocokan antara keadaan pribadi dengan
lingkungannya dan programnya.
Untuk
ini dapat diberikan saran :
a) Memberikan
bimbingan informasi dalam memilih program dan cara belajar.
b) Pengenalan
dengan memberikan wawasan tentang program yang ditempuh.
Mengenai
berhasil tidaknya layanan pada langkah ke-3 ini, beberapa indikator dapat
dipakai, yaitu :
1) Menunjukkan
minat untuk mencari pemecahan masalahnya.
2) Menunjukkan
kesediaan kerja sama dengan petugas BP.
3) Adanya
sikap terbuka karena ketegangan mulai berkurang.
4) Mulai
menyadari masalahnya secara realistis.
5) Menunjukkan
sikap yang positif dalam memilih langkah pemecahan berikutnya.
6) Menunjukkan
kesediaan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
Daftar Pustaka:
Ahmadi, Abu, dkk. 2004. Psikologi Belajar
Edisi Revisi. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Wina, Sanjaya. 2010. Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Cet.VII). Jakarta: Kencana.
Trianto. 2009. Mendesain Model
Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep Landasan dan Implementasinya pada Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Artikelnya sangat membantu. Bahasa yang di gunakan juga mudah di pahami dan terperinci. Terimakasih udah di share.
BalasHapus
BalasHapusTerimaksih telah menggugah artikel ini, dan sangat membatu saya, mudah di pahami, bahasa yang di gunakan pun cukup mudah di mengerti
Semoga banyak artikel artikel selanjutnya yang di share
Bahasnya cukup jelas dan memudahkan dalam memahaminya, good job
BalasHapusBagus sekali
BalasHapusTerimakasih sebelumnya udah di share..artikelnya bagus..di tunggu update selanjutnya.
BalasHapusBermanfaat, sering2 share 👍
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih udah di share
BalasHapusTerimakasih kak artikelnya sangat membangu dalam pembuatan tugas saya
BalasHapussering sering share ilmu nya kk
BalasHapusArtikelnya bagus dan bermanfaat. Juga mudah untuk di pahami
BalasHapusSangat bagus dan lengkap materinya
BalasHapusBahasa yang digunakan pada artikel mudah dipahami..
BalasHapusTerima kasih artikelnya membantu bgt
BalasHapus